bahasa piji dan bahasa kreol

Bahasa Pijin dan Bahasa Kreol
Miftah Nugroho
I. Pendahuluan
Bahasa pada kenyataannya tidak tunggal melainkan berbeda-beda. Selain itu, dalam sebuah bahasa memiliki berbagai wujud variasi, antara lain variasi standar dan nonstandar. Variasi-variasi tersebut muncul karena faktor sosial budaya, tempat individu atau kelompok individu itu berada. Bentuk atau wujud bahasa seseorang atau kelompok masyarakat sedikit banyak dipengaruhi oleh lingkungan atau faktor ekstralingual yang bersentuhan dengannya. Oleh karena faktor ekstralingual inilah sehingga wujud bahasa menjadi beragam-ragam sesuai dengan kenyataan sosial yang direfleksikannya. Pendapat ini membantah konsep Chomsky ihwal masyarakat bahasa homogen. Wardhaugh (1986: 113) mengevaluasi pandangan masyarakat homogen Chomsky seperti kutipan berikut ini.
“For purely theoretical purposes, linguist may want to hypotezise the existence of some kind of “ideal” speech community. This is actually what Chomsky proposes, his ‘completely homogenous speech community’. However, such a community can not be our concern: it is theoretical construct employed for a narrow purpose. Our speech community, whatever they are, exist in a ‘real world’. Consequently, some alternative view must be developed of speech community, one helpful to investigation of a language in society rahter than necessitated by more abstract linguistic theorizing”.
Berdasarkan pendapat Wardhaugh di atas dapat disimpulkan bahwa keberadaan masyarakat bahasa yang heterogen lebih masuk akal. Ihwal masyarakat homogen, kelihatannya hal ini susah untuk dibayangkan. Andaikata ada, jumlahnya sangat terbatas. Oleh karena keheterogenan masyarakat bahasa, faktor-faktor yang bersifat individual, regional, sosial dan situasional sangat mempengaruhi variasi bahasa.
Berpijak dari pendapat di atas, para pakar sosiolinguistik berpendapat bahwa bahasa itu ada bermacam-macam. Di antara berbagai macam bahasa itu adalah bahasa pijin dan bahasa kreol.
Pada mulanya, pijin dan kreol dianggap sebagai fenomena linguistik yang tidak menarik. Orang yang berbicara dengan pijin dan kreol dianggap hina. Hymes (dalam Wardhaugh, 1988) menambahkan bahwa sebelum tahun 1930 pijin dan kreol secara luas diabaikan oleh linguis dan dinilai sebagai bahasa marginal. Kemarginalan ini disebabkan oleh asal-usul mereka. Oleh karena itu, orang yang berbicara dengan bahasa pijin dan kreol dihubungkan dengan anggota masyarakat miskin dan masyarakat hitam.
Untungnya, perilaku dan anggapan ini pada masa sekarang sudah berubah. Para ahli bahasa memberikan perhatian yang serius pada bahasa pijin dan kreol. Mereka menemukan karakteristik yang menarik ihwal pijin dan kreol. Kajian pijin dan kreol menjadi bagian penting dari kajian sosiolinguistik dengan segala literatur dan kontroversi dari pijin dan kreol itu sendiri. Pada akhirnya, para penutur bahasa menyadari bahwa berbicara dengan pijin dan kreol bukanlah sebuah variasi bahasa yang jelek, tetapi bahasa atau variasi bahasa yang memiliki legitimasi, sejarah, struktur, dan kemungkinan pengakuan sebagai sebuah bahasa yang patut atau benar (Wardhaugh, 1988).
II. Pijin
Wardhaugh (1988) dan Holmes (2001) mendefinisikan pijin adalah bahasa yang tidak mempunyai penutur asli. Wardhaugh (1988) menambahkan bahwa pijin kadang-kadang dianggap sebagai sebuah variasi yang mengurangi bahasa normal, dengan penyederhanaan tata bahasa dan kosa kata, variasi fonologi, dan pencampuran kosa kata bahasa lokal. Oleh karena itu pijinisasi meliputi penyederhanaan bahasa, seperti pengurangan sistem morfologi (struktur kata) dan sintaksis (struktur gramatikal), toleran terhadap perbedaan pelafalan, pengurangan sejumlah fungsi bahasa, dan perluasan peminjaman kata-kata dari bahasa lokal. Pendapat yang sama dikemukakan oleh Fasold (1996) yang menyatakan bahwa pijin merupakan penyederhanaan dari pelafalan dan aspek-aspek tertentu tata bahasa.
Dari beberapa pendapat di atas, definisi pijin dapat disarikan menjadi dua, yaitu
(1) pijin merupakan variasi bahasa yang tidak memiliki pentur asli,
(2) pijin adalah variasi bahasa yang bercirikan penyederhanaan (simplification), dan lazimnya aspek yang mengalami penyederhanaan adalah tata bahasa dan kosa kata.
Apabila diamati secara etimologis, istilah bahasa Inggris pijin kemungkinan besar diambil dari kata benda business yang berarti perdagangan. Mula-mula, kata ini merupakan ragam yang penting sebagai bahasa bantu dalam sebuah kontak bahasa. Oleh karena pengaruh substratum Cina, perkembangan kata pijin kemungkinannya adalah seperti berikut: /bisnis/ > /pizin/ > /pizin/ > /pidgin/ (Suhardi dkk, 1995).Selaras dengan pendapat Suhardi, Holmes (2001) menyatakan bahwa kata pijin mungkin berasal dari business yang dilafalkan dalam bahasa Inggris pijin yang berkembang pada bangsa Cina, atau mungkin dari bahasa Yahudi yaitu pidjom yang berarti perdagangan atau pertukaran. Kemungkinan juga kata pijin berasal dari kombinasi dua huruf bahasa Cina yaitu péi dan tsˉi n yang bermakna membayar dengan uang.
Bahasa pijin akan muncul apabila dua penutur atau lebih mempergunakan sistem bahasa yang timbul akibat adanya situasi kebahasaan darurat sebagai media komunikasi. Struktur bahasa tersebut disederhanakan dan kosa katanya dibatasi. Bahasa tersebut akan disebut bahasa pijin jika bahasa tersebut untuk kedua belah pihak bukan merupakan bahasa ibu (Suhardi dkk, 1995: 3). Pendapat senada juga dikemukakan Bell (dalam Ibrahim, 1995). Bell berpendapat bahwa dalam suatu situasi kontak dimana dua kelompok yang tidak memiliki bahasa yang sama atau umum dan keduanya ingin berkomunikasi. Pada saat inilah tumbuh medium yang tampaknya tidak dapat dihindarkan lagi.
Pengertian bahasa pijin di atas dilatarbelakangi oleh adanya ekspansi kolonialisme dan imperialisme bangsa Eropa serta perkembangan perdagangan akibat ekspansi tersebut. Akibat situasi tersebut lalu muncul kebutuhan untuk berkomunikasi di antara bangsa-bangsa yang tidak saling mengenal bahasa masing-masing, yaitu bahasa Eropa di satu pihak dan bahasa penduduk lokal di pihak lain. Terdorong oleh keinginan untuk saling mengerti, bangsa Eropa menyederhanakan bahasanya dalam bidang tata bahasa dan kosa kata. Tujuannya adalah agar dapat berinteraksi dengan penduduk lokal. Sebaliknya, penduduk lokal berusaha untuk mempermudah sistem bahasanya agar bangsa Eropa dapat mengerti bahasa mereka. Berdasarkan situasi ini timbullah suatu bahasa campuran dengan sebuah konvens kebahasaan yang lebih ketat. Bahasa campuran ini kerap muncul dalam daerah kontak bahasa dari dua budaya yang berbeda. Pada bahasa campuran itu, bahasa yang berprestise sosial yang lebih tinggi akan berkembang menjadi bahasa penyumbang yang dominan (Suhardi dkk, 1995).
Ihwal definisi bahasa pijin, terdapat tiga aspek yang harus diperhatikan, yaitu aspek linguistik, aspek sosial, dan aspek historis (Suhardi dkk, 1995). Dari aspek linguistik, bahasa pijin dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu bahasa kedua dan bahasa penyumbang. Pertama, bahasa pijin merupakan bahasa kedua bagi seorang penutur yang melakukan pengurangan kosa kata secara ketat, kecenderungan menguraikan sesuatu dan mempunyai metaforis yang sangat luas. Kedua, bahasa penyumbang memiliki perbendaharaan fonem yang telah dipermudah dan diubah, sistem fleksi telah dihapus. Jika dibandingkan dengan bahasa ibu telah mengalami kontraksi sintaksis, misalnya penyatuan preposisi, artikel, dan konjungsi.
Senada dengan pendapat di atas, Holmes (2001) menyatakan bahwa bahasa pijin dibuat dari kombinasi antara orang-orang yang bertutur dengan bahasa yang berbeda. Kelompok orang pertama berbicara dengan bahasa dunia yang prestisius, sedangkan kelompok kedua menggunakan bahasa lokal/vernakular. Bahasa yang prestisius menyumbangkan lebih banyak kosa kata, sedang bahasa lokal mempengaruhi tata bahasanya. Bahasa yang menyumbangkan lebih kosa kata disebut sebagai lexifier/superstrate, sedangkan bahasa yang mempengaruhi struktur tata bahasa disebut substrate. Misalnya seperti di Papua New Guinea, bahasa Inggris adalah bahasa lexifier untuk bahasa Tok Pisin, sedangkan bahasa Tolai menjadi bahasa substrate.
Ihwal stuktur linguistik bahasa pijin, terdapat dua ciri. Ciri yang pertama adalah penyederhanaan struktur. Misalnya kata tidak memiliki sistem infleksi, penanda plural atau kala dalam kata kerja sebagaimana bahasa Inggris. Tidak terdapat afiks yang menjadi penanda gender seperti bahasa Spanyol atau Italia. Holmes (2001) membuat contoh seperti berikut ini yang berkaitan dengan bentuk verba antara bahasa pijin dengan bahasa yang normal.
Tabel Perbandingan bentuk verba empat bahasa
Bahasa Perancis Bahasa Inggris Bahasa Tok Pisin Bahasa Pijin Kamerum
je vais
yu vas
elle/il/va I go
you go
she/he/it goes mi
yu go
em a
yu go
i

Ciri yang kedua adalah jumlah kosa kata yang terbatas. Oleh karena pijin hanya dipergunakan untuk perdagangan, jumlah kosa katanya hanya beberapa ratus saja. Oleh karena kosa katanya tidak banyak, satu kata dalam bahas pijin bisa mengandung beberapa arti. Misalnya kata pas dalam bahasa Tok Pisin dapat berarti a pass, a letter, a permit, ahead, fast, firmly, to be dense, crowded, tight, to be block, atau shut. Hal ini berbeda dengan bahasa normal (bahasa orang dewasa yang monolingual) yang memiliki kosa kata sekitar 25.000 – 30.000 kata.
Terkait dengan aspek sosial, bahasa pijin adalah bahasa yang oleh penuturnya dipergunakan sebagai bahasa ibu. Pemerolehannya berlangsung dalam proses belajar bahasa secara bebas. Selain itu, dipengaruhi oleh kekuatan petutur. Oleh karena itu, bahasa pijin hanya dapat menutupi kebutuhan akan ragam bahasa yang diperlukan untuk pemahakan bahasa pertama saja (misalnya dalam bidang perdagangan, peraturan yang sederhana). Dengan demikian, sistem bahasa pijin dapat dipahami memiliki status sosiolinguitik yang rendah di antara kedua mitra bicara/petutur. Adapun dilihat dari aspek historis, bahasa pijin muncul karena adanya kontak bahasa antara bangsa Eropa dan bangsa bukan Eropa.
Sejalan dengan pendapat di atas, Holmes (2001) berpendapat bahwa bahasa pijin bukanlah bahasa yang status sosialnya tinggi atau prestis. Orang-orang banyak yang tidak menggunakan bahasa pijin untuk berbicara. Mereka merasa bahasa pijin adalah bahasa yang menggelikan.
Pada dasarnya menurut Holmes (2001) bahasa pijin memiliki beberapa fungsi, diantaranya adalah untuk perdagangan atau untuk administrasi. Di samping itu, bahasa pijin dipergunakan secara eksklusif untuk fungsi bahasa referensial (penyampaian informasi) daripada fungsi afektif (menjaga hubungan sosial). Oleh karena itu, bahasa pijin dituturkan untuk fungsi atau tujuan khusus seperti membeli dan menjual bijih padi atau hewan langka daripada dituturkan untuk menandakan perbedaan sosial atau ekspresi kesantunan.
Bahasa pijin bagi Holmes (2001) memiliki tiga sifat, yaitu
1) digunakan untuk fungsi dan domain yang terbatas,
2) dibandingkan dengan bahasa sumber, bahasa pijin mengalami penyederhanaan struktur,
3) secara umum, bahasa pijin termasuk ke dalam bahasa yang prestiusnya rendah dan diperlakukan secara negatif.
Seringkali bahasa pijin berumur pendek. Kasus ini terjadi bila bahasa pijin hanya dipergunakan untuk fungsi terbatas. Bahasa pijin akan lenyap ketika fungsinya juga lenyap. Misalnya bahasa pijin Inggris di Vietnam yang dikembangkan untuk pemakaian antara pasukan Amerika dan orang Vietnam, namun pada akhirnya mati.

III. Kreol
Kreol adalah bahasa pijin yang mempunyai penutur asli (Hudson: 1996, Holmes: 2001, Wardhaugh: 1988). Wardhaugh (1988) mengibaratkan kreol seperti bahasa normal yang memiliki penutur asli. Definis lain ihwal kreol adalah bahasa yang terbentuk jika suatu sistem komunikasi yang pada awalnya merupakan bahasa pijin kemudian menjadi bahasa ibu suatu masyarakat (Suhardi dkk: 1995). Pendapat ini dikuatkan oleh Holmes (2001) yang mengatakan bahwa semua bahasa yang disebut pijin pada kenyataannya sekarang ini menjadi bahasa kreol baru. Bahasa kreol tersebut dipelajari oleh anak sebagai bahasa pertama dan dipergunakan pada domain yang luas. Holmes (2001) mencontohkan seperti bahasa Tok Pisin yang mulanya adalah bahasa pijin dan berkembang menjadi bahasa kreol.
Bagi Wardhaugh (1988), penutur bahasa kreol sama seperti halnya penutur bahasa pijin. Kesamaan itu bisa dilihat jika mereka bertutur, mereka merasa ada yang kurang tidak seperti pada bahasa yang normal sebab cara bertutur mereka dan yang lain dibandingkan dengan bahasa Perancis dan Inggris.
Bagi Holmes (2001) bahasa kreol berbeda dengan bahas pijin. Perbedaan itu tampak fungsi, struktur, dan ekspresi perilaku terhadap bahasa kreol. Menurut Holmes (2001) kreol adalah pijin yang strukturnya diperluas, kosa katanya mengekspresikan sejumlah arti dan berfungsi sebagai pemerolehan bahasa pertama. Selaras dengan pendapat Holmes, Wardhaugh (1988) berpendapat bahwa kreolisasi meliputi perluasan sistem morfologi dan sintaksis, keteraturan sistem fonologi, pertambahan fungsi-fungsi bahasa yang dipergunakan, dan perkembangan rasional serta sistem yang stabil bagi kosa kata. Berikut ini contoh ihwal ciri-ciri struktur bahasa kreol yang disajikan oleh Holmes (2001).
Bahasa Kreol River Rover Australia
(a) im bin megim ginu he made a canoe [past tense]
(b) im megimbad ginu he is making a canoe [present continuous]
Bahasa kreol bagaimanapun mengembangkan cara-cara ihwal penandaan arti seperti kala kata kerja. Seperti pada contoh di atas, penanda kala lampau adalah partikel bin, sedangkan aspek progresif dimarkahi dengan sufiks –bad yang dilekatkan pada verba.
Contoh lainnya dipaparkan Holmes (2001) berkaitan dengan bahasa pijin yang berkembang menjadi bahasa kreol, strukturnya menjadi teratur. Tabel di bawah ini menjelaskan ihwal strategi linguistik ihwal keteraturan struktur kata yang berhubungan dengan arti, dan bentuk ini membuat lebih mudah untuk dipelajari dan dipahami.
Bentuk-Bentuk Bahasa Tok Pisin
Bahasa Tok Pisin Bahasa Inggris Bahasa Tok Pisin Bahasa Inggris
Bik
Brait
Daun
Nogut
Pret
Doti Big, large
Wide
Low
Bad
Afraid
Dirty Bikim
Braitim
Daunim
Nogutim
Pretim
Dotim To enlarge, make large
To make wide, widen
To lower
To spoil, damage
To frighten, scare

Apabila fungsi dari bahasa pijin adalah hanya untuk perdagangan atau administrasi, atau untuk peyampaian informasi belaka, maka fungsi bahasa kreol menjadi lebih luas. Menurut Holmes (2001) fungsi bahasa kreol seperti halnya fungsi pada semua bahasa, yaitu untuk politik, pendidikan, administrasi perkantoran, kesusastraan. Misalnya bahasa Tok Pisin yang sering dipergunakan sebagai bahasa perdebatan di parlemen Papua New Guinea.
Ihwal sikap atau penilaian, penutur luar meyikapi negatif bahasa kreol sebagaimana sikap mereka pada bahasa pijin, namun kasus ini tidak semua bahasa kreol. Misal bahasa Tok Pisin yang mempunyai status dan prestis untuk orang-orang Papua New Guinea.
IV. Asal-Usul dan Berakhirnya Bahasa
Beberapa pakar bahasa berpendapat bahwa semua pijin dan kreol memiliki asalu-usul yang sama. Mereka menegaskan bahwa kebanyakan pijin dapat dilacak kembali ke pijin Portugal abad 15 dan mungkin berikutnya ke lingua franca/bahasa bantu Mediterania. Pakar yang lain berpendapat bahwa masing-masing pijin mucul dan berkembang secara mandiri. Oleh karena itu, para pakar memandang kesamaan bahasa pijin dengan membuat dua poin yang membatasi perkembangan bahasa pijin yang mereka bagi. Pertama, pijin muncul dalam kontkes yang berbeda namun untuk jenis fungsi dasar yang sama, seperti perdagangan, pertukaran dan transaksi yang lain serta orientasinya pada fungsi referensial. Kedua, fungsi-fungsi ini diekspresikan melalui proses struktural yang tampak universal pada semua situasi perkembangan bahasa, seperti penyederhanaan dan pengurangan tata bahasa.
Ihwal kreol, terdapat perdebatan mengenai apa yang terjadi pada kreol. Ada jawaban yang bervariasi yang tergantung pada konteks sosial. Dalam masyarakat yang pembagian sosialnya kaku, sebuah kreol mungkin menjadi variasi L yang stabil di samping dibolehkan menjadi variasi H. Misalnya situasi diglosik di Haiti dimana bahasa kreol Haiti menjadi variasi L di samping bahasa Perancis. Ketika rintangan sosial menjadi lebih cair, kreol mungkin berkembang menjadi bahasa standar dari keadaan yang menurunkan sejumlah kosa kata. Ketika kreol digunakan orang per orang dengan variasi standar dalam sebuah masyarakat yang rintangan sosialnya tidak dapat diatasi, ciri-ciri kreol akan berubah langsung menjadi variasi standar. Proses inilah yang disebut dekreolisasi.

DAFTAR PUSTAKA
Fasold, Ralph. 1996. The Sociolinguistics of Language. Blackwell Publisher Ltd.
Holmes, Janet. 2001. An Introduction to Sociolinguistics. Pearson Education Limited
Hudson, R.A. 1996. Sociolinguistics. Cambridge: Cambridge University Press.
Ibrahim, Abd. Syukur. 1995. Sosiolinguistik: Sajian, Tujuan, Pendekatan, dan Problem. Surabaya: Usaha Nasional
Suhardi, Basuki dkk. 1995. Teori dan Metode Sosiolinguistik III. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Wardhaugh, Ronald. 1988. An Introduction to Sociolinguistics. Basil Blackwell Ltd.
Wijana, I Dewa Putu. 2003. “Eksistensi dan Resistensi Bahasa” dalam Kumpulan Karya Ilmiah Para Pakar pada Seminar Internasional Budaya, Bahasa, dan Sastra Fakultas Sastra UNDIP-UNIMUS Oktober 2003

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s