Konteks dalam Pragmatik

KONTEKS DAN PRAGMATIK

I. Pendahuluan
Pada dasarnya, seorang peneliti bahasa dapat meneliti bahasa dari segi bentuknya saja. Misalnya, ia meneliti sebuah bahasa dari segi fonologinya saja, atau dari segi morfologi, sintaksis, dan semantiknya saja, atau keempat aspek tersebut diteliti semua. Setelah itu, ia akan merumuskan sistem bahasa yang ditelitinya. Lazimnya, hasil penelitian tersebut berupa sistem bahasa yang bentuknya gramatikal (set of rule).
Jika penelitian tersebut diterapkan dalam pemakaian bahasa sehari-hari, penjelasan atau pendeskripsian yang akan dihasilkan menjadi kurang memadai. Misalnya seperti contoh di bawah ini.
(1) Ibu: Airnya sudah masak mbak?
Anak: Kopi atau teh Bu?
(2) Ali dimainkan bola.
Pada contoh (1) satu di atas, jika hanya diteliti dari segi bentuknya saja, hasilnya menjadi taksa. Ketaksaan ini disebabkan dari tuturan anak yang seharusnya berupa jawaban namun yang muncul adalah sebuah pertanyaan lagi. Seharusnya jawaban anak itu adalah “ya Bu, kompornya saya matikan”. Begitu pula contoh (2), Ali sebagai subjek kalimat tidaklah seharusnya dimainkan oleh bola. Yang benar adalah bola dimainkan oleh Ali. Fenomena-fenomena ini sering muncul dalam pemakaian bahasa sehari-hari.
Bagi seorang peneliti linguistik formal, ia hanya akan meneliti sebuah satuan bahasa tanpa dikaitkan dengan pemakaian bahasa sehari-hari. Ia tidak akan mempermasalahkan mengapa dan bagaimana sebuah kalimat atau tuturan itu muncul. Padahal, dalam pemakaian bahasa sehari-hari, terdapat unsur penting yang mempengaruhi pemakaian bahasa. Unsur itu adalah konteks. Konteks sangat mempengaruhi bentuk bahasa yang akan digunakan oleh seorang penutur. Oleh karena ketidakpedulian peneliti linguistik tersebut terhadap unsur konteks inilah, hasil analisisnya menjadi tidak memadai
Konteks mulai dianggap penting bagi para ahli linguistik sejak permulaan tahun-tahun 1970-an. Mereka menyadari akan pentingnya konteks dalam menafsirkan kalimat. Implikasi dalam memperhitungkan dan memperhatikan konteks dinyatakan Sadock (Brown dan Yule, 1996: 35) seperti di bawah ini.
There is, then, a serious methodological problem that confronts of the advocate of linguistic pragmatics. Given some aspect of what a sentence conveys in a particular context, is that aspect part of what the sentence conveys in virtue of its meaning … or should it be ‘worked out’ on the basis of Gricean principles from the rest of the meaning of the sentence and relevant facts of the context of utterance?
Salah satu cabang linguistik yang menonjolkan konteks dalam analisisnya adalah pragmatik. Hal ini ditegaskan oleh Levinson (1997) dalam bukunya Pragmatics. Dalam bukunya tersebut, Levinson membuat beberapa definisi pragmatik yang dikaitkan dengan konteks. Berikut ini adalah definisi pragmatik menurut Levinson yang berhubungan dengan konteks.
1. Pragmatics is the study of those relations between language and context that are grammaticalized, or encoded in the structure of language. ‘Pragmatik adalah kajian ihwal hubungan antara bahasa dan konteks yang digramatikalisasikan atau dikodekan di dalam struktur bahasa’
2. Pragmatics is the study of relations between language and context that a basic to an account of language understanding. ‘Pragmatik adalah kajian ihwal hubungan antara bahasa dan konteks yang merupakan dasar dari penjelasan tentang pemahaman bahasa’
3. Pragmatics is the study of the ability of language users to pair sentences with the context in which they would be appropriate. ‘Pragmatik adalah kajian ihwal kemampuan pengguna bahasa untuk menyesuaikan kalimat dengan konteks sehingga kalimat itu patut atau tepat diujarkan’.
Berdasarkan definisi pragmatik di atas, dapat disimpulkan bahwa konteks sangat diperlukan oleh pragmatik. Tanpa konteks, analisis pragmatik tidak akan berjalan. Seperti pada contoh (1) dan (2) di atas, maksud dari dua tuturan tersebut dapat dijelaskan karena melibatkan konteks. Dengan kata lain, daya pragmatik atau pragmatics force sangat bergantung pada konteks yang berlangsung pada waktu tuturan diujarkan dalam sebuah peristiwa tutur.

II. Konteks dan Pragmatik
Istilah konteks pertama kali diperkenalkan oleh Malinowski (1923: 307) dengan sebutan konteks situasi. Ia merumuskan konteks situasi seperti di bawah ini.
Exactly as in the reality of spoken or written languages, a word without linguistic context is a mere figment and stands for nothing by itself, so in the reality of spoken living tongue, the utterance has no meaning except in the context situation.
Sejalan dengan pendapat Malinowski, Firth (Brown dan Yule, 1996) juga menyinggung konteks situasi untuk memahami sebuah ujaran. Menurut Firth, konteks situasi bagi pekerjaan linguistik menghubungkan tiga kategori, yaitu
a. Ciri-ciri yang relevan dari para peserta: orang-orang, kepribadian-kepribadian.
(i) Perbuatan verbal para peserta
(ii) Perbuatan nonverbal para peserta
b. Tujuan-tujuan yang relevan.
c. Akibat perbuatan verbal.
Konteks situasi yang dikenalkan oleh Malinowski dan Firth ini lalu dikembangkan lagi oleh Hymes (1974) yang menghubungkan dengan situasi tutur. Dalam situasi tutur tersebut, terdapat delapan komponen tutur yang disingkat menjadi SPEAKING. Kedelapan komponen tutur itu dapat mempengaruhi tuturan seseorang. Delapan komponen tutur itu meliputi latar fisik dan latar psikologis (setting and scene), peserta tutur (partisipants), tujuan tutur (ends), urutan tindak (acts), nada tutur (keys), saluran tutur (instruments), norma tutur (norms), dan jenis tutur (genres).
Leech (1983) memerikan konteks sebagai salah satu komponen dalam situasi tutur. Menurut Leech, konteks didefinisikan sebagai aspek-aspek yang berkaitan dengan lingkungan fisik dan sosial sebuah tuturan. Leech menambahkan dalam definisinya tentang konteks yaitu sebagai suatu pengetahuan latar belakang yang secara bersama dimiliki oleh penutur dan petutur dan konteks ini membantu petutur menafsirkan atau menginterpretasi maksud tuturan penutur.
Penjelasan yang agak panjang terkait dengan konteks dikemukakan oleh Levinson. Levinson (1983:5) mengemukakan konteks dari definisi Carnap yaitu istilah yang dipahami yang mencakup identitas partisipan, parameter ruang dan waktu dalam situasi tutur, dan kepercayaan, pengetahuan serta maksud partisipan di dalam situasi tutur. Selanjutnya Levinson (1983: 22-23) menjelaskan bahwa untuk mengetahui sebuah konteks, seseorang harus membedakan antara situasi aktual sebuah tuturan dalam semua keserbaragaman ciri-ciri tuturan mereka dan pemilihan ciri-ciri tuturan tersebut secara budaya dan linguistik yang berhubungan dengan produksi dan penafsiran tuturan. Untuk mengetahui ciri-ciri konteks, Levinson mengambil pendapat Lyon yang membuat daftar prinsip-prinsip universal logika dan pemakaian bahasa, yaitu seperti di bawah ini.
(i) Pengetahuan ihwal aturan dan status (aturan meliputi aturan dalam situasi tutur seperti penutur atau petutur, dan aturan sosial, sedangkan status meliputi nosi kerelativan kedudukan sosial).
(ii) Pengetahuan ihwal lokasi spasial dan temporal
(iii) Pengetahuan ihwal tingkat formalitas
(iv) Pengetahuan ihwal medium (kira-kira kode atau gaya pada sebuah saluran, seperti perbedaan antara variasi bahasa tulis dan lisan)
(v) Pengetahuan ihwal ketepatan sesuatu yang dibahas.
(vi) Pengetahuan ihwal ketepatan bidang wewenang (atau penentuan domain register sebuah bahasa).
Kemudian, Ochs (Levinson, 1983: 23) menyatakan bahwa tidaklah mudah mendefinisikan jangkauan konteks. Menurutnya, seseorang mempertimbangkan aspek sosial dan psikologis pemakai bahasa yang menjalankan setiap waktu. Hal seperti itu adalah jangkauan minimal. Selain itu, jangkauan konteks juga meliputi kepercayaan dan asumsi ihwal latar sosial, temporal dan spasial; tindakan atau perbuatan yang lebih dulu, perbuatan terus-menerus, dan perbuatan yang akan dating (baik verbal maupun nonverbal), dan pernyataan ihwal pengetahuan dan perhatian terhadap partisipasi dalam interaksi sosial. Jadi, Lyon dan Ochs menekankan bahwa konteks tidak harus dipahami dengan meniadakan ciri-ciri linguistik. Levinson menambahkan bahwa konteks juga meliputi partisipan, tempat tuturan dengan rangkaian tuturan yang membangun sebuah wacana.
Pendapat lain dikemukakan oleh Hamblin yang menafsirkan konteks sebagai keunikan yang dimiliki penutur dalam arti janji yang tercatat (Gazdar: 1976). Van Dijk (Levinson, 1983) menambahkan bahwa konteks ditafsirkan sebagai situasi kompleks, sebagaimana situasi ihwal pasangan yang berurutan dimana situasi awal menyebabkan situasi kedua. Situasi pertama adalah produksi tuturan yang diujarkan penutur, sedangkan situasi yang kedua merupakan tafsir tuturan oleh petutur. Senada dengan pendapat Dijk, Verschueren (1999) menjelaskan bahwa dalam pemakaian bahasa terdapat unsur penutur dan petutur. Penutur bertugas membuat tuturan, sedangkan petutur menafsirkan tuturan penutur. Ihwal konteks, Verschueren mengaitan dengan dunia psikologis, sosial, dan fisik, saluran linguistik, dan konteks linguistik. Ihwal definisinya, konteks adalah hasil dari proses pembangkitan yang meliputi apakah yang ada di luar sana dan mobilisasi atau pengerahan (dan kadang-kadang berupa manipulasi) oleh pengguna bahasa.
Schiffrin (1994) memerikan konteks dalam bukunya Approach to Discourse dalam satu bab tersendiri. Pemerian konteks ia hubungkan dengan nosi teks. Dalam bukunya tersebut, Schiffrin membahas konteks dalam kaitannya dengan berbagai teori, yaitu teori tindak tutur, pragmatik, sosiolinguistik interaksional, dan etnografi komunikasi. Teori tindak tutur dan pragmatik memandang konteks sebagai pengetahuan (berhubungan dalam linguistik maupun dalam kompetensi komunikasi), sedangkan sosiolinguistik interaksional dan etnografi komunikasi memandang konteks sebagai situasi (termasuk pengetahuan “di sini dan saat ini”) dan pengetahuan ihwal bentuk-bentuk umum situasi.
Yule (1996) membahas konteks dalam kaitannya dengan kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi referen-referan yang bergantung pada satu atau lebih pemahaman orang itu terhadap ekspresi yang diacu. Berkaitan dengan penjelasan tersebut, Yule membedakan konteks dan koteks. Konteks ia definisikan sebagai lingkungan fisik dimana sebuah kata dipergunakan. Koteks menurut Yule adalah bahan linguistik yang membantu memahami sebuah ekspresi atau ungkapan. Koteks adalah bagian linguistik dalam lingkungan tempat sebuah ekspresi dipergunakan.
Mey (2001) berpendapat bahwa konteks itu penting dalam pembahasan ketaksaan bahasa lisan atau tulis. Mey mendefiniskan konteks sebagai konsep dinamis dan bukan konsep statis, yang harus dipahami sebagai lingkungan yang senantiasa berubah, dalam arti luas yang memungkinkan partisipan berinteraksi dalam proses komunikasi dan ekspresi linguistik dari interaksi mereka yang dapat dimengerti. Konteks berorientasi pada pengguna sehingga konteks dapat disangka berbeda dari satu pengguna ke pengguna lain, dari satu kelompok pengguna ke kelompok pengguna lain, dan dari satu bahasa ke bahasa lain. Mey menambahkan konteks lebih dari sekedar referen namun sebuah perbuatan/tindakan. Konteks adalah perihal pemahaman untuk apakah sesuatu itu. Konteks juga memberikan arti pragmatik yang sebenarnya dan membolehkan arti pragmatik yang sebenarnya menjadi tindak pragmatik yang sebenarnya. Konteks menjadi lebih penting tidak hanya untuk menilai referen dan implikatur yang pantas, tetapi juga dalam hubungan dengan isu pragmatik lainnya seperti tindak pragmatik dan praanggapan. Ciri konteks lain adalah fenomena register. Dengan register, petutur memahami bentuk-bentuk linguistik yang dipergunakan penutur untuk menandai sikap mereka terhadap mitra wicaranya.
Yan Huang (2007: 13-14) membicarakan konteks dalam kaitannya dengan nosi dasar semantik dan pragmatik. Menurut Huang, konteks dipergunakan secara luas dalam kepustakaan linguistik, namun sulit untuk memberikan definisi yang tepat. Konteks dalam arti luas mungkin diartikan sebagai pengacuan terhadap ciri-ciri yang relevan dari latar yang dinamis atau dalam lingkungan tempat unit linguistik dipergunakan secara sistematis. Selanjutnya, konteks disusun atas tiga jenis, yaitu konteks fisik, konteks linguistik, dan konteks pengetahuan umum. Konteks fisik mengacu pada latar fisik sebuah tuturan. Misalnya tuturan (3) di bawah ini penafsirannya bergantung pada pengetahuan terukur dari konteks fisik, yaitu lokasi ruang-waktu dari tuturan.
(3) He’s not the chief executive; he is. He’s the managing director.
Konteks linguistik menunjuk pada tuturan ada di sekitarnya dalam wacana yang sama. Misalnya tuturan (4) berikut yang mengandung konstruksi elliptis.
(4) John: Who gave the waiter a large tip?
Mary: Helem
Konteks pengetahuan umum meliputi sejumlah asumsi latar belakang yang dimiliki bersama antara penutur dan petutur. Misalnya tuturan (5) dan (6) di bawah ini yang dinilai secara pragmatis bentuknya baik dan anomali.
(5) I went to Beijing last month. The Forbiden City was magnificient.
(6) ?I went to Paris last month. The Forbiden City was magnificient.
Tuturan (5) secara pragmatis dinilai bentuknya baik, sedangkan (6) dinilai anomali. Berdasarkan pengetahuan dunai seseorang diketahui bahwa kota terlarang terdapat di Beijing, namun tidak ada pertunjukan pariwisata di Paris.
Konteks pengetahuan umum ini oleh Stanlaker (Yuang, 2007: 14) disebut latar umum (common ground). Konteks pengetahuan umum juga dikenal dengan istilah latar belakang, arti umum, ensiklopedi pengetahuan, konteks pengetahuan dunia nyata.
Joan Cutting (2008) menjelaskan konteks bersamaan dengan teks dan fungsi. Ketiga aspek tersebut dikaji oleh pragmatik dan analisis wacana. Konteks menurut Cutting adalah pengetahuan ihwal dunia fisik dan sosial serta faktor-faktor sosio-psikologis yang mempengaruhi komunikasi sebagaimana pengetahuan waktu dan tempat di dalam kata-kata yang dituturkan atau dituliskan. Konteks merupakan pengetahuan yang dimiliki bersama oleh penutur dan petutur. Cutting membagi konteks menjadi tiga macam, yaitu konteks situasional, konteks pengetahuan latar, dan koteks. Konteks situasional berkaitan dengan situasi tempat interaksi tuturan, apakah penutur mengetahui ihwal apa yang dapat mereka lihat di sekelilingnya. Konteks pengetahuan latar berkaitan dengan apakah penutur dan petutur saling mengetahui ihwal budaya dan interpersonal. Budaya adalah pengetahuan umum yang dibawa oleh kebanyakan orang dalam pikirannya, seperti tempat tinggal. Interpersonal berhubungan dengan pengetahuan khusus dan kemungkinan pribadi ihwal sejarah penutur itu sendiri. Koteks merujuk pada konteks sebuah teks itu sendiri.

III. Penutup
Dari berbagai pendapat di atas, tampak peran konteks dalam kajian pragmatik. Analisis pragmatik sangat bergantung pada konteks. Dengan konteks, petutur dapat menafsirkan tuturan penutur dalam sebuah situasi tutur. Nosi yang penting ihwal konteks adalah sebagai berikut.
(1) Konteks merupakan konsep yang dinamis. Maksud dinamis di sini adalah bahwa kenyataan dunia selalu berubah, dalam arti luas yang memungkinkan partisipan berinteraksi dalam proses komunikasi dan ekspresi linguistik dari interaksi mereka yang dapat dimengerti. Hal ini berbeda dengan sosiolinguistik yang sifatnya statis. Misalnya sosiolinguistik menjelaskan pemilihan bentuk bahasa didasarkan pada komponen tutur Hymes (SPEAKING), sedangkan pragmatik menjelaskan pemilihan bentuk bahasa didasarkan pada tujuan para peserta pertuturan (Gunarwan, 2004).
(2) Nosi kedua yang penting adalah bahwa konteks berdasarkan literatur terkini terdiri dari tiga unsur, yaitu konteks situasi, konteks pengetahuan, dan koteks. Lazimnya konteks situasi dan pengetahuan lebih dahulu terjadi daripada koteks.
(3) Nosi ketiga, yaitu konteks berorientasi pada pengguna. Dengan demikian penggunaan konteks dapat berbeda, baik itu antarpengguna, antarkelompok pengguna, dan antarbahasa pengguna.
(4) Nosi keempat, konteks digunakan untuk memahami semua faktor yang berperan dalam produksi dan komprehensi tuturan (Jumanto, 2008: 31).
Daftar Pustaka
Brown, Gillian dan Goerge Yule. 1996. Discourse Analysis. Cambridge: Cambridge University Press
Cutting, Joan. 2008. Pragmatics and Discourse. London: Routledge
Gazdar, Gerald. 1979. Pragmatics: Implicature, Presupposition, and Logical Form. New York: Academic Press
Gunarwan, Asim. 2004. “Pragmatik, Kebudayaan, dan Pengajaran Bahasa” dalam Seminar Nasional Semantik III: Sabtu, 28 Agustus 2004
Huang, Yan. 2007. Pragmatics. Oxford: Oxford University Press
Hymes, Dell. 1974. Foundation in Sociolinguistics. Philadelphia: University of Pennsylvania Press
Jumanto. 2008. Komunikasi Fatis di Kalangan Penutur Jati Bahasa Inggris. Semarang: World Pro Publishing
Leech, Geoffrey. 1983. The Principles of Pragmatics. New York: Longman Group Limited
Levinson, S.C. 1983. Pragmatics. Cambridge: Cambridge University Press
Malinowsky, Bronislaw. 1923. “The Problem of Meaning in Primitive Language” dalam Ogeden , C.K. dan I.A. Richards (ed). The Meaning of Meaning London: Routledge & Keegan. Paul. Ltd
Mey, Jacob L. 2001. Pragmatics An Introductions, second edition. Oxford: Blackwell
Schiffrin, Deborah. 1994. Approach to Discourse. Massachusetts: Blackwell Publishers
Verschueren, Jef. 1999. Understanding Pragmatics. London: Arnold
Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford: Oxford University Press

10 responses to “Konteks dalam Pragmatik

  1. thanks atas informasinya. Ini sangat membantu sekali

  2. Konteks menunjuk arti, 1. bunyi, kata, frase yang mendahului dan mengikuti suatu unsur bahasa. 2. ciri-ciri alam di luar bahasa yang menumbuhkan makna pada ujaran, lingkungan non linguistis dari wacana, dan 3. semua faktor dalam proses komunikasi yang tidak menjadi bagian dari wacana. Saya pernah membaca buku bahwa ada berbagai konteks, seperti Konteks budaya, konteks linguistik, konteks semotaktis, konteks sintaksis, dan konteks situasi. Mohon penjelasannya.

    • Berbicara konteks itu memang mencakup banyak hal. Ada konteks budaya, konteks linguistik, konteks sosial dan sebagainya. Dari bacaan terakhir saya, Huang (2007) dan Cutting (2008), mereka mengatakan bahwa konteks meliputi budaya, sosial, dan konteks lingual. Misal dalam sebuah peristiwa tutur (speech event), tuturan yang diujarkan oleh penutur dan mitra tutur tentunya akan dipengaruhi konteks fisik (misal di tempat umum atau di tempat pribadi), budaya (mengkritik langsung bagi orang jawa tidak sopan, namun bagi orang Batak mungkin dianggap biasa), dan konteks lingual. Namun yang tak kalah penting dalam kajian pragmatik adalah bahwa power dan solidarity. kedua hal tersebut ternyata banyak disinggung dalam tesis atau disertasi yang selama ini saya baca. dua hal tersebut menurut Brown dan Levinson akan mempengaruhi seseorang untuk merealisasikan tindak tutur yang akan diujarkan.

  3. What’s up to all, the contents existing at this web site are really awesome for people knowledge, well,
    keep up the good work fellows.

  4. kak…. mau tanya tolong di balas ya…. soalnya saya butuh buat skripsi saya….. teory punya e leech itu halaman berapa… kok cuma tahunnya??

    • aduh saya lupa. apa gak punya buku leech. coba dicari dulu dech. itu tugas waktu buat makalah tentang konteks pragmatik pada tahun 2008. hehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s